Banyak brand sudah aktif bikin konten dan menjalankan berbagai pemasaran kreatif, tetapi mereka tetap kesulitan untuk viral dan terkenal. Engagement mentok, share minim, dan campaign pun cepat tenggelam.
Di sinilah tantangannya yang membuat banyak marketer akhirnya mencari contoh viral marketing yang efektif untuk belajar apa saja tren pamasaran saat ini. Selain itu, memahami faktor yang membuat konten bisa viral.
Menariknya, beberapa contoh viral marketing di Indonesia justru tidak selalu di awali dari digital. Sebagian penyebabnya berawal dari iklan OOH yang kemudian meledak di sosial media karena orang merasa “perlu” membagikannya.
Lantas, apa sajakah konten yang berpotensi viral? Mari cari tahu contoh iklan viral yang brand mulai dari OOH atau sebaliknya di sini.
Baca juga: Mengenal Viral Marketing sebagai Strategi Pemasaran Terbaik
1. Iklan OOH yang Nyata dan Terasa
Salah satu kekuatan OOH adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman nyata. Bukan sekadar visible, tetapi juga bisa audiens rasakan saat Anda campaign di luar ruang.
Brand sampo ternama, yaitu Sunsilk, pernah memanfaatkan kekuatan tersebut lewat campaign mereka di Terowongan Kendal, Sudirman. Area itu brand sulap menjadi ruang interaktif dengan konsep yang playful dan immersive.
Pendekatan soft selling yang brand lakukan terbukti efektif. Orang datang bukan karena “dipaksa membeli”, melainkan karena penasaran ingin menikmati area imersif itu.
Dari situ juga konten organik mulai bermunculan. Banyak yang merekam, memotret, kemudian membagikannya ke sosial media. Campaign ini akhirnya menghasilkan jutaan impression dan memperluas jangkauan brand secara signifikan.
Simak Video Iklan Sunsilk di OOH x StickEarn
2. Konten Terintegrasi yang Bikin FOMO
Netflix juga menggunakan pendekatan serupa dengan skala yang lebih terintegrasi. Saat mempromosikan series “Stranger Things”, brand ini tidak hanya hadir di satu titik, tetapi mendominasi beberapa area seperti M Bloc Jakarta.
Melalui kombinasi MobileLED dan placemaking activation StickEarn, Netflix menghadirkan pengalaman dunia “Upside Down” secara langsung. Audiens tidak hanya melihat, mereka ikut masuk ke dalam cerita.
Ada photobooth, instalasi visual, hingga aktivitas interaktif yang membuat orang betah berlama-lama. Pertanyaannya, dari campaign besar ini, hasilnya bagaimana? Tentu saja kampanye marketing Netflix viral di mana-mana.
Banyak pengunjung yang secara sukarela membagikan pengalaman mereka ke Instagram dan TikTok. Ini jadi contoh viral marketing dan buzz marketing yang berhasil karena memanfaatkan storytelling, experience, dan distribusi organik secara bersamaan.
3. Kombinasi Offline dan Online yang Personal
Fenomena serupa juga terlihat dari campaign Close Up dalam event marketing. Dengan menghadirkan interaksi langsung ke audiens, brand berhasil menciptakan momen yang terasa personal, dan mudah orang ingat sekaligus membagikannya.
Pada campaign Ramadan, Close Up mengemas aktivasi mereka dengan pendekatan yang lebih dekat dan relevan dengan audiens. Event ini bukan sekadar “numpang hadir” di sebuah acara, tapi benar-benar brand rancang sebagai pengalaman yang engaging.
Salah satu highlight-nya adalah konsep “Satu Billboard dengan Alyssa dan Al Ghazali”, yang mengajak audiens untuk berinteraksi langsung dengan sosok influencer populer seperti Al Couple dan figur lainnya di M Bloc. Aktivasi ini terasa eksklusif dan yang related serta bisa memicu viralitas.
Tidak berhenti di situ, Close Up juga menghadirkan berbagai aktivitas seru seperti photobooth hingga personal color test yang membuat pengunjung punya banyak momen untuk mereka abadikan dan bagikan.
Untuk memperkuat jangkauan, campaign ini juga mereka perluas lewat Digital LED pylon, sehingga eksposurnya tidak hanya terbatas pada pengunjung event, tapi juga audiens yang lebih luas di area tersebut.
Pendekatan tersebut menjadi contoh kuat bagaimana kombinasi offline dan online bisa menciptakan pengalaman yang personal. Bahkan, kegiatan marketing yang berkembang menjadi viral melalui share dan percakapan di sosmed
4. Content dengan USP Unik
Salah satu contoh viral marketing yang jitu datang dari strategi konten dengan USP (Unique Selling Point) yang benar-benar beda dari yang lain. Bukan sekadar unik, tapi juga “aneh” dalam cara yang menarik perhatian.
Fenomena Aldi Taher bisa jadi contoh paling relevan. Ia terkenal sering membuat konten yang nyeleneh, out of the box, bahkan kadang terasa absurd. Tapi justru di situlah kekuatannya. Kontennya mudah orang kenali, sulit diabaikan, dan sering memancing reaksi audiens, baik itu hiburan, kebingungan, atau bahkan perdebatan.
Dari sisi marketing influencer itu menjadi contoh kalau produk viral marketing yang bertumpu pada diferensiasi kuat. Ketika brand atau personal brand punya ciri khas yang tidak kompetitor miliki, peluang untuk viral jadi jauh lebih besar karena orang merasa “ini beda, harus di-share.”
5. Konten Viral yang Memiliki Efek Snowball
Contoh viral marketing lainnya ialah konten yang punya efek snowball, mulai dari kecil, kemudian membesar karena terus orang bagikan dan replikasi. Biasanya, konten seperti ini punya format yang mudah diikuti atau audiens tiru. Misalnya, challenge, template video, atau konsep storytelling sederhana yang bisa banyak orang adaptasi.
Ketika satu orang mulai, orang lain ikut, kemudian terus berlipat ganda. Jadi, bisa kami bilang bahwa contoh ini menjawab apa itu viral marketing dalam bentuk paling organik yang sesungguhnya.
Brand tidak perlu selalu push besar-besaran karena audiens secara sukarela menjadi “distributor” pesan. Dalam konteks jenis iklan, efek snowball juga sering terlihat di TikTok atau Instagram Reels, yang membuat satu ide berkembang pesat.
6. Content Humor Berkesan
Humor juga jadi salah satu senjata paling kuat dalam viral marketing di Indonesia. Konten yang lucu, relatable, dan “kena” di keseharian audiens punya peluang besar untuk dibagikan.
Namun, humor yang efektif bukan sekadar lucu. Harus ada relevansi dengan brand atau pesan yang ingin Anda sampaikan. Ketika humor terasa natural alias tanpa paksaan, audiens akan lebih mudah menerima. Bahkan, tanpa sadar ikut menyebarkannya.
Banyak brand memanfaatkan pendekatan ini. Konten ringan, receh, tapi ngena justru sering outperform konten yang terlalu serius, apalagi jika Anda kombinasikan dengan tren yang sedang naik, efek viralnya bisa jauh lebih cepat.
Pada akhirnya, humor bekerja karena satu hal, yaitu orang suka berbagi sesuatu yang membuat mereka terlihat lucu atau “nyambung” dengan lingkungannya.
Baca juga: Pahami tentang Video Iklan Produk dan Cara Membuatnya
Bikin Kampanye Viral Anda Sekarang!
Dari berbagai contoh viral marketing tersebut, satu hal yang bisa Anda pahmi ialah bahwa viral bukan soal keberuntungan. Konten yang viral terjadi ketika brand berhasil menciptakan pengalaman yang layak untuk audiens bicarakan dan bagikan.
OOH menjadi salah satu medium yang kuat untuk memulai efek itu. Ketika pengalaman offline Anda rancang dengan baik, distribusi online akan mengikuti dengan sendirinya. Kalau Anda ingin membuat content marketing yang menarik, saatnya mempertimbangkan OOH sebagai bagian dari strategi pemasaran Anda. Klik banner di bawah atau kontak di sini untuk langsung beriklan.
