Sepanjang tahun 2025, iklan Out of Home (OOH) tumbuh secara konsisten. Dari berbagai format OOH, penggunaan billboard masih menjadi salah satu pilihan utama brand untuk membangun visibilitas di ruang publik.

Berdasarkan data Playlog Insight dalam laporan “Billboard Rewind 2025″, belanja iklan billboard mengalami kenaikan sebesar 19% dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, meskipun meningkat, belanja billboard secara umum tetap berada dalam kondisi yang stabil dari tahun ke tahun. 

Hal ini menandakan bahwa billboard bukan sekadar tren sesaat, melainkan jenis  iklan yang sudah teruji dan berkelanjutan. Dengan kondisi tersebut, brand yang ingin memanfaatkan iklan billboard Jakarta maupun wilayah lainnya perlu menyusun strategi yang matang agar investasi iklan benar-benar berdampak. 

Masih menurut laporan riset Playlog, berikut  hal-hal yang harus Anda perhatikan sebelum beriklan di billboard yang agar strategi pemasaran produk jadi lebih efektif

Lokasi Iklan di Billboard 

penggunaan billboard tujuannya untuk apa?

Source: Freepik – Memilih lokasi sangat penting sebelum beriklan di billboard

Dalam hal penggunaan billboard, lokasi memegang peranan yang sangat krusial. Billboard yang Anda tempatkan di titik kurang strategis berisiko membuat pesan iklan tidak tersampaikan secara optimal kepada audiens yang tepat.

Jika pesan tidak relevan dengan lalu lintas audiens di lokasi tersebut, konsumen tidak hanya gagal memahami promosi. Mereka juga enggan bertindak lebih lanjut, seperti membeli atau mencari tahu produk.

Menurut Playlog Insight, aktivitas billboard tersebar cukup merata di berbagai wilayah Indonesia. Namun, DKI Jakarta dan Jawa Barat masih menjadi pilihan utama brand. Konsekuensinya, persaingan visibilitas di dua wilayah ini tergolong sangat kompetitif.

Data menunjukkan:

  • Jawa Barat: 3.750 inventory dengan 47.590 penayangan
  • DKI Jakarta: 1.440 inventory dengan 26.088 penayangan
  • DI Yogyakarta: 1.598 inventory dengan 23.733 penayangan

Di sisi lain, wilayah seperti Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan mulai dilirik sebagai alternatif lokasi billboard. Selain kepadatan penduduk yang terus meningkat, daerah-daerah ini juga menawarkan potensi ekonomi dan inventori iklan yang semakin kompetitif.

Industri Paling Aktif Menggunakan Billboard

Pertumbuhan billboard yang signifikan memunculkan pertanyaan besar: industri mana yang paling agresif memanfaatkan billboard sepanjang 2025?

Riset Playlog Insight mencatat bahwa industri rokok mendominasi belanja iklan billboard dengan total mencapai Rp860 miliar. Angka ini menempatkan industri tersebut sebagai kontributor terbesar sekaligus mempertegas billboard sebagai saluran visibilitas utama bagi brand rokok.

Namun, siapa sajakah brand di industri ini yang gencar beriklan? Berikut ialah daftarnya:

  • Djarum dan Gudang Garam dengan belanja sekitar Rp20 miliar dan total impression mencapai 30 miliar,
  • Wismilak, LA, dan Camel mencatat impression tinggi hingga 9,7 miliar meskipun dengan belanja yang relatif lebih rendah, menunjukkan strategi pemilihan lokasi yang sangat efektif.

Di sektor lain. Ada beberapa sorotan penting yang perlu Anda ketahui, seperti berikut.

  • Perbankan dan keuangan dipimpin oleh BSI dan BRI dengan belanja sekitar Rp54 miliar, disusul BCA, Mandiri, dan BJB.
  • Industri minuman masih didominasi Le Minerale (Rp48 miliar), diikuti Cool-Vita dan Sirup Kurma.
  • Transportasi: Gojek dan Grab tetap menjadi pemain utama.
  • Kecantikan: ERHA dan Blink Beauty memimpin dengan total belanja sekitar Rp20 miliar.

Baca juga: 5+ Iklan Produk Minuman yang Menarik di Bus Advertising

Tujuan Penggunaan Billboard

penggunaan billboard iklan

Source: Unsplash – Tentukan tujuan iklan saat menggunakan billboard

Laporan Playlog Insight juga menunjukkan bahwa tujuan penggunaan billboard tidak selalu berorientasi pada meningkatkan omzet penjualan. Pada momen tertentu, seperti Ramadan, brand cenderung mengubah komunikasinya.

Billboard tidak hanya berfungsi sebagai media promosi produk, tetapi juga sebagai alat untuk membangun afeksi dan kedekatan emosional dengan audiens. Konten iklan pun bergeser dari hard selling menuju pesan yang lebih relevan secara budaya dan emosional.

Brand biasanya menyeimbangkan antara materi reguler dan materi khusus momen. Strategi ini membantu brand tetap relevan, membangun kedekatan, dan secara bertahap mendorong pertumbuhan penjualan.

Salah satu contoh yang dicatat Playlog adalah kampanye iklan BCA. Dalam kampanye Ramadan, BCA menggunakan pendekatan soft selling dengan pesan yang membangun kesadaran konsumen sekaligus mengarahkan konsumen melalui call to action yang jelas, seperti ajakan “Penuhi Kebutuhan Ramadan” bersama BCA.

Penggunaan Billboard Tetap Relevan & Efektif

Sepanjang 2025, penggunaan billboard terbukti tetap relevan dan efektif sebagai media pemasaran, terutama bagi brand yang mampu menyusun strategi berbasis data. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, mulai dari pemilihan lokasi yang tepat hingga penyesuaian pesan sesuai momen dan audiens.

Semua itu berperan besar dalam menentukan keberhasilan kampanye. Data dari Playlog Insight menunjukkan bahwa billboard bukan hanya soal visibilitas, tetapi juga tentang bagaimana brand membangun koneksi, memanfaatkan momentum, dan mengoptimalkan investasi iklan secara berkelanjutan.

Untuk memahami tren, data lokasi, serta strategi beriklan billboard secara lebih mendalam, Anda dapat mengunduh laporan lengkap Playlog Insight “Billboard Rewind 2025” melalui tautan berikut ini dan jadikan insight-nya sebagai dasar pengambilan keputusan kampanye Anda.

mengenal lebih dekat motorbike advertising