Baru-baru ini beberapa brand terlihat giat sekali beraktivasi, tetapi bedanya, mereka melakukan aktivasi di luar area target market naturalnya: New York City. Kita tahu bahwa NYC adalah salah satu kota tersibuk di dunia, mulai dari bisnis sampai dunia hiburannya–menjadikannya salah satu tujuan wisata atau tujuan hidup seseorang.
Brand-brand yang aktif melakukan campaign kreatif menjadikan NYC sebagai tujuan: ikut dalam New York Fashion Week sampai memasang slot beriklan di billboard digital raksasa di sana, yang biaya sewanya selangit. Wajar saja, jalanan di sana tidak pernah sepi.
Fenomena ini membuat beberapa pertanyaan dari banyak orang yang kurang lebih memiliki benang merah yang sama: “kenapa melakukannya di New York? Yang akan membeli kan bukan orang sana, tetap orang Indonesia. Enggak efektif dong?” Tidak efektif? Tergantung. Tergantung tujuannya.
Jelas sekali tujuan mereka melakukan aktivasi di New York dengan ikut fashion week atau memasang slot di billboard digital adalah meningkatkan awareness. Iya, tujuan aktivasinya adalah menaikkan awarenes dengan melakukan media placement offline yang brand tuju untuk audience online. Strategi ini brand buat dengan pesan yang efektif juga: bermain dengan heroisme dan nasionalisme.
Baca Juga: Inilah Alasan Sebuah Brand Memilih Mobile LED untuk Beriklan
Tentu saja anggapan bahwa memasang billboard digital di Time Square tidak akan mempengaruhi warga lokal atau turis yang berjalan di sekitarnya. Itu benar, jelas-jelas orang-orang yang ada di sana bukan target audience mereka.
Namun, jadi berbeda jika me-highlight iklan tersebut dalam percakapan yang terjadi di media sosial di Indonesia.
Banyaknya konten yang beredar dalam percakapan digital Indonesia, membuat brand harus super kreatif dalam mengemasnya, harus bisa total dalam menarik perhatian, dan pastinya..terukur.
Membawa kreativitas di media luar ruang ke percakapan daring, tentu saja membutuhkan strategi pemasaran yang matang, momentum dan konteks jadi kunci. Bayangkan saja kalau hal itu banyak brand lakukan dalam jangka waktu yang berdekatan, orang-orang akan bosan. Brand lain yang mau ikut tren ini juga harus melakukan sesuatu yang jauh lebih bombastis, memasang iklan di roket Elon Musk, misalnya.
Tujuannya adalah Awareness
Seperti yang kami katakan dalam paragraf awal, pemasangan billboard yang efektif di luar negeri itu tujuannya adalah awareness, karena dari offline, bisa Anda bawa ke dalam percakapan online. Maka harus Anda pastikan faktor “talkability” atau “conversation” dari kampanye tersebut. Maksudnya bagaimana?
Dengan memasang billboard di luar negeri, brand tersebut paling tidak sudah mencentang satu kotak penting dalam pertimbangan kampanye: out of ordinary dan kalau jadi yang “pertama”, susah bagi brand lain untuk kemudian mengikuti jejaknya. Kalau harus beradu konten yang menarik mungkin lebih mudah, tapi kalau pertama, jauh lebih sulit.
Selanjutnya adalah bagaimana investasi besar yang brand keluarkan dalam campaign ini bisa brand teruskan efeknya hingga bisa dalam kurun waktu yang lebih panjang Set a collection of triggers.
Kita lihat saja salah satu brand fashion yang berangkat ke New York, kita bisa melihat banyak trigger yang brand siapkan.
- Influencers from various categories: fashion, sports, lifestyle, etc.
- Foto-foto influencers di landmark New York
- Kegiatan masing-masing influencers yang unik, bahkan sampai akun gosip bicarakan.
Beriklan di New York Mulai dari OOH di Jakarta
Dari satu investasi besar, bisa kemudian brand pecah dan menghasilkan eksposure yang panjang. Akhirnya, brand-brand ini tidak hanya sekadar “pasang billboard di luar negeri” is more than that. Ini adalah soal kreativitas memadukan banyak medium beriklan, menghasilkan conversation, menghasilkan engagement yang long lasting.
